Ulasan Film Cek Toko Sebelah 2017 : Berlari Tanpa Kaki


"Kita tidak akan disuguhkan drama yang mengaduk emosi begitu lama,komedi yang ditawarkan Ernest di film ini sungguh sangat renyah"




Review (Awas Spoiler)

Setelah ini saya akan memberikan ulasan secara mendalam tentang film ini,mohon yang belum menonton film ini jangan melanjutkan membaca. Karena disamping tidak akan seru bila kalian membaca ini lalu menontonya,juga karena kita harus menghargai sebuah karya.


  Mentertawakan sebuah kekurangan merupakan ciri khas standup comedy ala Ernest Prakasa. Di film pertama ia memvisualisasikan bukunya yang berjudul sama "Ngenest". Di film itu ia menertawakan masa kecilnya yang dibullly karena keturunan Tionghoa,memparodikan hal yang sebagian orang masih menganggap itu tradisi atau bahkan tabu. Jujur,saya tidak pernah membaca ketiga buku yang dibuat koh Ernest itu,tapi ketika melihat film Ngenest,satu hal yang saya ingat,rapi. Komedi nya sangat segar,dicampur dengan drama keluarga yang menggelitik sekaligus menyentuh. Di film Ngenest,saya merasa Ernest terihat terkotak,sedikit kaku dan tidak terlalu bebas,mungkin Ngenest memang harus terstruktur karena film itu adaptasi dari buku. Mungkin juga dikarenakan dia menjadi sutradara pertama kali.

  Di film keduanya "Cek Toko Sebelah" (yang setelahnya akan disebut CTS),Ernest seperti meloncat dari buku,terlihat bebas namun tetap rapi. Di film CTS Ernest kembali mengambil "adat" dari Tionghoa. Anak seorang Tionghoa yang sukses,kuliah ke luar negeri ujung-ujungnya disuruh menjaga toko engkohnya. Di CTS yang berperan menjadi anak itu adalah Ernest Prakasa sendiri (Erwin),dia sukses kuliah di Australia dan mempunyai jabatan yang tinggi di kantornya,bahkan dia akan dipromosikan bekerja di Singapura. Erwin mempunyai pacar yang juga memunyai karir yang cemerlang,Natalie (Gisella Anastasia). Erwin mempunyai ayah yang mempunyai toko yang lumayan sukses,Koh Afuk (Chew Kin Wah),beliau adalah aktor dari Malaysia yang juga bemain di film "My Stupid Boss". Koh Afuk ini mempunyai anak buah di toko miliknya yang bererilaku absurd. Ada Yadi (Adjis Doa Ibu),Rojak (Awwe),Kuncoro (Dodit Mulyanto),dan yang mempunyai peran paling mengena (baca:menggelitik) Naryo (Yusril Fahriza). Koh Afuk juga mempunyai anak lain (kakaknya Erwin),Yohan (Dion Wiyoko). Yohan mempunyai hidup yang berantakan,dia pernah masuk penjara dan suka main judi,dia mempunyai istri seorang pribumi yaitu Ayu (Adinia Wirasti).

  Erwin yang mempunyai karir yang sukses,tiba-tiba binggung dengan permintaan Koh Afuk yang tengah terbaring dirumah sakit,yaitu mewarisi toko. Erwin yang merasa karirnya cemerlang dan tidak enak hati dengan abangnya Yohan,mencoba menyakinkan Koh Afuk untuk memikirkan permintaan itu. Tapi Koh Afuk berkeras hati untuk memberikan toko itu kepada Erwin,tidak kepada Yohan yang menurut Koh Afuk,dia mengurus sendiri dan istrinya saja tidak mampu apalagi mengurus toko beserta karyawan Koh Afuk. Erwin pun menyerah menyanggupi permintaan Koh Afuk karena Koh Afuk bercerita tentang susah payahnya membangun toko itu dengan istrinya,dan Erwin tidak mampu menolak karena ingat ibunya yang telah tiada. Koh Afuk bilang untuk mencoba dulu 1 bulan,dan bila sudah selesai Erwin boleh memilih untuk terus menjaga toko itu atau meneruskan karirnya. Natalie yang merasa "menjaga" toko bukanlah pekerjaan yang baik,memprotes keputusan Erwin itu,begitupun juga Yohan yang memperlihatkan dia marah sampai memukul lemari kayu. Ayu sebagai istri (idaman) Yohan berusaha menenangkan suaminya. Kalau melihat sosok Ayu sampai ending film ini Adinia Wirasti sangat pas memerankan toko ini dengan wajah teduhnya itu.

  Kita tidak akan disuguhkan drama yang mengaduk emosi begitu lama,komedi yang ditawarkan Ernest di film ini sungguh sangat renyah. Gimana ya menggambarkannya,Awwe dan Adjis yang pernah bermain di film Ngenest dihadirkan kembali,tentu kolaborasi mereka yang absurd sangat menjanjikan. Ditambah seorang Dodit Mulyanto,semua komedi itu seperti sebuah tarian yang pecah (lucu sekali),entah celetukan seorang Dodit di film ini murni dari skenerio Ernest apa dari pengembangan Dodit sendiri,terasa pas sekali kalau Dodit yang mengucapkan. Eits ada satu tokoh lagi yang mempunyai andil di ranah komedi film ini,yaitu Naryo yang diperankan Yusril Fahriza. Naryo adalah karyawan Koh Afuk yang paling "feminim" dalam body pria tentunya. Akting Yusril yang banci,tubuh yang tambun serta rambut belahan tengah,sukses memberi kita loncatan emosi dari kesedihan drama ke komedi yang mengocok perut. Komedi bukan datang dari mereka saja,ada dari toko sebelah saingan Koh Afuk,dan juga teman-teman Yohan bermain judi kartu (komedi tentang analogi buah membekas sampai sekarang di otak saya) yang mayoritas mereka comic dan sebagian pernah bermain di film Ngenest. Ada juga putra dari Presiden Jokowi yang berperan menjadi supir taksi. Drama,komedi dan pesan-pesan yang ingin disampaikan Ernest mengalir rapi bagai kita membaca sebuah buku,setiap babak selalu meminta perhatian kita,tidak ada waktu kita untuk bosan dengan alur ceritanya.

  Tapi seperti semua film,selalu ada kekurangan,di CTS juga ada tapi sangat kecil. Ada adegan yang menurut saya percuma,seperti adegan seorang ibu melunasi hutang,disitu ada Koh Afuk yang sedang menghitung uang pengembalian ibu tadi,memprotes kok tidak sama dengan hitunganya,Koh Afuk mencari sesuatu di bawah meja,lalu bilang kalau jumlahnya teryata sesuai,Koh Afuk pergi dan ibu tadi mencubit pipi Erwin dan memuji ketampanan Erwin. Tidak ada korelasi dengan jalan cerita,kecuali untuk menekankan ibu-ibu tadi sering hutang dan bukan pelanggan yang baik,untuk disambungkan dengan dialog Koh Afuk kepada Pak Nandar (owner toko saingan Koh Afuk) pada saat Koh Afuk mau menjual tokonya,dia menitipkan pelanggannya termasuk ibu tadi,dan Pak Nandar merasa keberatan karena ibu tadi sering berhutang. Atau hanya penekanan bahwa Erwin selain juga sukses tapi juga tampan? hanya tuhan dan koh Ernest yang tahu. Sepanjang film ini Erwin menggunakan banyak dialog berbahasa Inggris,ok penekanan kalau Erwin pernah kuliah di Australia,tapi tidak tahu perasaan saya terlalu berlebihan,terutama pada saat dialog-dialog penting seperti dialog pertengkaran. Mungkin masalah selera,tapi menurut saya kurang pas,mungkin dialeg Inggris Ernest yang masih "terlalu" Indonesia,kurang pas untuk orang yang lama kuliah di Australia

  Akting semua peran menurut saya pas, Koh Afuk sanggat menyentuh ketika meminta maaf ke Yohan di pemakaman, Dion Wiyoko tidak usah diragukan lagi lah kualitasnya,tapi sayang sekali lagi Erwin menurut saya kurang pas sederhana saja,mengapa dia tidak ikut menangis? coba Erwin menangis,ah tentu banjir air mata satu studio bioskop. Tapi bukan berati akting Ernest jelek ya,tapi pasti masih bisa lebih baik lagi. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas,Adinia Wirasti sangat pas memerankan Ayu,sebagai istri dari pernikahan yang tidak disetujui Koh Afuk (karena Ayu pribumi), Ayu sangat sabar meski Yohan belum bisa mewujudkan mimpinya,memiliki toko kue sendiri. Walaupn Ayu ditawari mantan kekasihnya sebuah rumah untuk toko kue impianya,ia tidak serta merta mengambil keputusan sendiri. Disini ada dialog yang sangat mengenana di hati ketika Ayu menceritakan perihal tawaran dari mantan kekasihnya tadi dan Yohan tidak setuju dan berbicara "Aku yang mewujudkan mimpimu,bukan orang lain". Ayu menjadi toko protagonis yang paling manis di film ini. Gisella Anastia memberikan peran yang penuh dengan emosi,tapi di akhir cerita kita akan luluh dengan akting tentang dia bersedia menjadi istri sorang penjaga toko. Chew Kin Wah saya lihat pertama kali di film My Stupid Boss tidak menyangka bisa berlogat Indonesia seperti itu,dan aktingnya ketika dia menjual tokonya,ah tidak menyangka beliau bisa mengaduk air mata penonton seperti itu. Ernest Prakasa membuktikan bahwa,semua orang bisa lebih baik. Selalu berat meneruskan karya pertama yang disambut positif banyak orang,tapi Ernest Prakasa merobohkan tembok itu dengan film keduanya ini,salut.


Semua hal yang sedemikian rapi di CTS ini,di bumbui dengan gurih oleh soundtrack dari The Overtunes dan GAC (Gamaliel Audrey Cantika). Di film pertama The Overtunes cukup sukses,kali ini Ernest menyunting mereka lagi,kali ini bersama GAC. Musik dan lirik pas sekali mengalun di tiap babak film ini. Seperti salah satu judul lagunya,Berlari Tanpa Kaki,Cek Toko Sebelah sangat mungkin untuk berlari menembus batas,tanpa kaki (terbang),jauh,tidak hanya berlari melewati layar bioskop dan jatuh ke hati penonton,tapi jauh berlari menjadi salah satu film terlaris di Indonesia.

Rating Film : 8/10

Tulisan ini juga bisa dilihat di Hipwee



Pengulas adalah seorang pecinta film dalam negeri maupun luar negeri,tidak pernah bersekolah film tapi penikmat film berdosis tinggi,tapi jujur bukan orang gila. Pengulas hanya mengulas film dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya berusaha berimbang dengan kelebihan dan kekurangan film itu sendiri.

Erisfika Bahrul Hikmah.

Sumber :
Wikipedia
gambar 1
gambar 2 

Popular posts from this blog

Ulasan : Film Hangout (rilis : 22 Desember 2016)