Ulasan : Film Hangout (rilis : 22 Desember 2016)




"Humor yang segar dan cerdas,cara Raditya Dika membuat aktor dan aktris yang rata-rata tidak punya riwayat bermain di film bergenre komedi,menjadi aktor dan aktris yang mampu mengocok perut penonton"



1. Sinopsis 
 
  • Judul: Hangout
  • Tanggal Rilis Perdana: 22 Desember 2016
  • Genre : Thriller, Komedi
  • Sutradara: Raditya Dika
  • Produser: Sunil Suamtani, Gope T
  • Penulis Naskah: Raditya Dika
  • Durasi: 101 Menit
  • Rating: BO (Bimbingan Orang Tua)
  • Studio: Rapi Films
  • Pemain: Raditya Dika, Prilly Latuconsina, Titi Kamal, Soleh Solihun, Dinda Kanya Dewi, Gading Marten, Bayu Skak, Surya Saputra dan Mathias Muchus, dll.
Hongout merupakan film yang bercerita tentang 9 orang yang di undang secara misterius di sebuah pulau. Yang mereka kira adalah sebuah project pembuatan film yang besar,tapi yang terjadi mereka mati satu persatu di pulau tersebut dan pembunuhnya kemungkinan ada di antara mereka bersembilan.

2. Soft Review

Soft opening dulu ya pembaca. Raditya Dika kembali ke layar lebar Indonesia setelah 6 bulan sebelumnya menyuguhkan adaptasi buku ketujuhnya,Koala Kumal. Mendengar nama Raditya Dika adalah jaminan lucu,cara pandang dia akan komedi di campur dengan percintaan adalah jurus pamungkas dan mematikan musuh dengan presentase 99%,pasti mengerti kan?. Kali ini dia datang dengan rasa yang berbeda,thriller komedi. Sebuah genre yang jarang ada di Indonesia,yang saya ingat film alm.Suzana itu thiller komedi bukan ya?. Yang pasti akhir-akhir ini bioskop Indonesia disuguhi film cinta dengan embel-embel judul kota-kota di luar negeri. Jujur film terakhir Raditya Dika yang terakhir di bioskop saya tidak melihatnya yaitu Koala Kumal,alasan pertama saya sudah baca bukunya,alasan kedua saya sedikit bosan dengan Genre film yang di tawarkan Raditya Dika. Kali ini dengan Hangout,dia membuat saya ingin kembali melihat karyanya.

Ok ini pendapat saya pribadi setelah menonton film ini. Awal film ini kita sudah disuguhkan dengan adegan komedi yang khas Raditya Dika yang diperankan oleh aktor dan standup comedian Soleh Solihun. Setelah itu kita tidak akan diberi ruang untuk diam,perut kita akan di kocok dengan set-up yang cerdas. Raditya Dika tahu cara menaruh set-up yang bagus dan puchline yang tidak pernah penonton pikirkan. Ruang lingkup yang sempit,hanya berputar di hutan memberikan kesan para pemain tidak menemukan jalan keluar,itu intinya. Film The Raid bisa membuat syaraf kawatir penontonnya kendur kencang,di karenakan ruang sempit yang para pemainya tidak punya jalan keluar,tentu di tambah dengan adegan silat yang karismatik itu. Hangout juga seperti itu tapi disini kita disuguhkan penyelesaian masalah cerita dengan cara komedi,itu pelurunya. Dari awal carita kita tidak dikenalkan dengan karakter masing-masing pemain,mereka bersembilan menjadi diri mereka sendiri di film ini,kita disughkan hubungan yang rentan antara 2 orang pemain (takut spoiler) yang saya bisa menebak itu akan dijadikan konflik di inti film. Mereka bersembilan menjadi diri mereka sendiri tapi dittambah dengan pendalaman cerita seperti Dinda Kanya Dewi dengan sifat joroknya dan Surya Saputra dengan perfectionistnya.

Diaolognya lugas dan sangat komedi,tidak bertele-tele seperti menjelaskan asal-usul pulau,mengapa mereka bersembilan sudah sangat akrab (yang di akhir cerita terjawab). Oh iya,menurut saya yang perannya bertugas sebagai pos komedi yang paling lucu adalah Bayu Skak dengan vlog absurdnya,saya sendiri tahu Bayu Skak dari youtube chanelnya,disalah satu scene dia beradegan menangis dan itu pasti susah untuk orang yang selalu "begejekan (suka bercanda)" seperti dia. Dinda Kanya Dewi juga begitu "jorok",jauh dari peran antagonis yang begitu melekat selama ini,dua jempol untuk pembangunan karakternya. Mathias Muchus juga menjadi sangat komedi disini,berharap dia agak lama di layar untuk melihat aktor lawas berkomedi,tapi ya itu (takut spoiler). Soleh Solihun memberi warna komedi yang ya seperti standup comedy nya yang mempuyai tema absurd tentang bagian-bagian tubuh manusia. Surya Saputra juga berkomedi disini tapi dia di tempatkan di peran yang harus selalu ada di film thriller,yaitu yang tertuduh. Titi Kamal mempunyai aura kemanisan yang lucu di film ini juga Prilly Latuconsina. Gading Martin dengan celetuk-celetuknya yang khas dan Raditya Dika sendiri dengan kepolosanya. Semua itu menggerakkan film ini dengan begitu apik. Thriller komedi sebuah genre baru di Indonesia,Raditya Dika memberikan unsur misteri dan komedinya bagai roller coster yang naik turun bergantian dan  kadang bersamaan,nice movie.

3. Hard Review (Spoiler)

Setelah ini saya akan memberikan ulasan secara mendalam tentang film ini,mohon yang belum menonton film ini jangan melanjutkan membaca. Karena disamping tidak akan seru bila kalian membaca ini lalu menontonya,juga karena kita harus menghargai karya anak negeri.


Spoiler Hangout Warning 

Cerita bermula ketika 9 orang bertemu di sebuah pelabuhan,yang menurut saya lebih realistis kalau di buat ramai dengan para figuran,mungkin di karenakan yang diundang orang besar harus ekskusif atau memang biar penonton langsung terkonsentrasi dengan konflik antara Raditya Dika dan Soleh Salihun?. Mereka berkumpul atas undangan orang bernama Tony P (maaf saya lupa),mereka mengira diundang untuk sebuah project film besar . Hal yang membuat saya tertawa pertama kali ketika adegan pura-pura tidurnya Soleh di atas kapal lucu sekali campur jijik hehe. Sampai mereka di pulau itu dan disana sudah ada Prilly Latuconsina,sudah agak curiga saya dengan alasan dia datang lebih awal ikut pemberangkatan kapal pagi hari,ini EO nya siapa kok bisa beda jadwal 1 orang saja :). Pengenalan sifat khas para pemain mulai dotonjolkan disini,mulai Dinda Kanya Dewi dengan sifat joroknya dan Soleh salihun dengan komedi "jorok"nya. Semua komedi berjalan dengan semestinya sampai aktor lawas om Mathias Muchus meninggal dunia,kita tidak akan lama disuguhkan dengan horor terlalu lama,komedi dari Bayu Skak yang menurut saya natural sekali. 

Disini mulai terjadi konflik antar mereka yang tinggal berdelapan,antara yang tinggal karena project film ini dan yang ingin pergi karena ketidakwajaran kematian om Mathias Muchus. Semua konflik antar pemain membuat salah satu di antara mereka terbunuh lagi,Prilly Latuconsina. Disini mulai disebar remahan roti tentang jawaban atas pertanyaan siapa yang mengincar mereka. Dan seperti film thriller sejenis,harus ada orang yang tertuduh dan dicurigai sebagai aktor pembuat teror. Dan di film ini yang bertugas adalah Surya Saputra,kualitas aktingnya tidak usah diragukan lagi. Dengan tercurigai Surya Saputra, konsentrasi mereka terbelah antara bertahan hidup atau mencegah orang lain yang terbunuh,tentu membuat film ini lebih misteri. Saat pagi tiba,mereka sepakat membagi tugas untuk mengumpulkan makan dan air minum,disini dua dari mereka terbunuh lagi,yaitu Titi Kamal dan Dinda Kanya Dewi. Dan jujur menurut saya ini komedi paling lucu di film ini,lho orang terbunuh kok komedi paling lucu? itulah cerdasnya Raditya Dika. Yang paling menganggu di banyak scene adalah pergerakan kamera yang cepat tapi membuat gambar tidak fokus,entah mungkin maksudnya bertujuan mendramatisasi tiap adegan untuk mempompa jantung penonton atau yang lain tapi jujur itu sangat menganggu. Ini film thiller pertama Raditya Dika bisa dimaklumi. Semua perempuan di film ini sudah terbunuh,dan semakit sedikit orang yang tersisa membuat semua orang saling mencurigai,tetap yang paling tercurigai adalah Surya Saptra setelah itu,ada adegan Surya Saputra jadi gila dan menyuruh Raditya Dika,Bayu Skak,Gading Martin dan Soleh Salihun untuk membuat drama bawang merah bawang putih,lucu sekali dan membuat misteri menjadi cair kembali seperti roller coster. Bayu Skak again, kali ini dia beradegan menangis dan mayoritas penonton bioskop malah tertawa itu lha lucunya hehehe. Kita tidak dibiarkan bersedih (atau tertawa) terlalu lama,setelah itu Bayu Skak menemukan petunjuk tentang siapa pembunuh yang mengincar mereka,Bayu Skak lari dan memberi tahu kepada Raditya Dika dan anehnya dia tidak langsung bilang dan lari keluar mencari kertas dan pulpen,untuk saat itu ok bisa saya maklumi tapi ketika saya tahu alasan untuk apa pulpen dan kertas itu saya jadi marah hehehe, motivasinya apa?. Ok tujuanya Raditya Dika membuat cerita Bayu Skak mengambil pulpen untuk agar dia terbunuh,ya hanya itu. Kematian Bayu Skak membuat tersangka menjadi sedikit,dan kecurigaan mereka membuat mereka kalap dan saling mengejar satu sama lain,lalu tersangka yang paling tercurigai terbunuh,Surya Saputra. Tinggal 3 orang,disini Gading Martin mencurigai Raditya Dika dan Soleh Salihun bersengkokol memmbunuh para artis non standup comedy. Gading mengejar Radit dan Soleh,inipun kita tidak bisa tegang,komedi terus berjalan. Sampai akhirnya Gading Martin terbunuh, Ok fix pembunuhnya kalau tidak Raditya Dika atau Soleh Salihun,konflik mereka yang diawal film di call back lagi membuat alasan mereka sama-sama masuk akal,mereka berdua saling mencoba membunuh,dan jangan lupa pasti ada komedinya. Di saat mereka berdua mengambil kesimpulan bahwa bukan mereka berdua pembunuhnya,Raditya mendapat hidayah,entang petunjuk Bayu Skak yang Raditya sadar adalah tentang tas para wanita yang secara tidak sengaja di cek Bayu ternyata ada 1 tas yang tidak ada undangan dari Tony S (maaf lupa). Dan tas itu milik Prilly Latuconsina,jadi pembunuh mereka orang yang sudah meninggal? jujur saya tidak kaget,yang saya masih tidak mengerti Bayu Skak tadi ambil bulpen dan kertas untuk apa? hehehehe. Prilly Latuconsina pun muncul dan datang dengan pakaian pembunuh dengan panah di tanganya,serem? enggak dia masih kelihatan cantik tanpa riasan seorang pembunuh yang sadis dan bajunya rapi sekali,ok saya sadar lagi ini thiller komedi. Prilly Latuconsina menjelaskan mengapa dia masih hidup,karena yang meninggal kemarin adalah boneka dirinya,Prilly mengejar Soleh dan Raditya dengan panahnya. Radit dan Soleh bersembunyi disebuah lemari yang sempit,hehehe epic banget deh kalau komedi jorok nya Soleh di campur dengan kepolosan (baca: kebodohan) Raditya, mas-mas yang duduk di sebelah saya tertawa sampai mau loncat dari kursi. Akhirnya mereke berdua lolos dari Prilly dan sampailah mereke di hutan,Prilly menjelaskan mengapa dia yang berwajah cantik dan belum akil baligh (kata Soleh Salihun) tega membunuh banyak orang. 

Pertama,pulau itu milik keluargnya,dan ini jawaban mengapa dia bisa datang lebih dulu dan mempersiapkan semua. Kedua,pada waktu pesta pernikahanya om Muchus mereka berkumpul,dan ini saya baru mengerti ternyata mereka semua adalah teman dekat bukan aktor aktris yang diplih secara acak ada di pulau itu,ini menjekaskan diaolog antara Mathias Muchus dan Raditya Dika yang menanyakan kapan terakhir kali mereka kumpul seperti ini pada saat jamuan makan. Ok mulai terjawab,lalu mengapa Prilly tega membunuh karena waktu mereka kumpul pada saat pesta pernikahan om Muchus dia mendapat telpon tentang ayahnya kritis,dan sebelum Prilly ngomong mau pamit dia tidak boleh pergi dari pesta itu,ketika pulang dia mendapat kabar ayahnya meninggal dunia,dan dia tidak punya waktu untuk saat-saat terakhir bersama ayahnya,dia menjadi dendam kepada mereka semua. Saat itu saya berusaha menelaah sejenak alasan dari semua pembuhan ini,saya marah dan kesal mata saya melotot dan saya berkesimpulan,ok ini thiller komedi :). Saat Prilly menembak membabi buta,oiya panah Prilly tadi sudah di rebut Raditya dengan rencana absurd Soleh. Ketika semua harapan sirna dan Prilly tinggal menembakkan pelurunya ke Radith dan Soleh yang sudah tidak berdaya,munculah kata-kata Raditya yang membuat Prilly sadar. Ah kata-kata Raditya sudah gak bisa dibahas pasti indah dan masuk direlung hati.Prilly pun berhasil dilumphkan oleh kata-kata Raditya dan polisi pun berdatangan.Bukan Raditya Dika kalau tidak memberikan ending yang mengena dihati,tentang Soleh dan Raditya yang masih menganggap Prilly keluarga,dan tentang Raditya Dika dan Soleh Salihun berkerja sama membuat aplikasi untuk melindungi kelurga atau teman yang mempunyai potensi membahayakan seperti Prilly,dan yang paling penting scene ending tentang Soleh,ya sudah lah silahkan lihat sendiri pasti ngakak.




4. Kesimpulan

Sebuah genre baru yang disuguhkan oleh Raditya Dika punya kelebihan dan kekurangan. Humor yang segar dan cerdas,cara Raditya Dika membuat aktor dan aktris yang rata-rata tidak punya riwayat bermain di film bergenre komedi,menjadi aktor dan aktris yang mampu mengocok perut penonton. Memakai aktor dan aktris pengalaman juga punya nilai tersendiri di mata penonton. Yang jadi soal adalah penonton yang mengharap lebih dari film thriller ini,motivasi pemain dan jalan cerita seolah menjadi klise untuk film thriller,memang film ini thiller komedi yang membuat bisa dimaafkan. Jujur,saya sebelum film ini sudah menerka tentang jawaban siapa pembunuhnya,film Raditya Dika yang berjudul Marmut Merah Jambu memberi sedikit petunjuk. Saya berkesimpulan jawabanya atau nama orangnya pasti tentang mengolah kata-kata,saya mencoba mengurutkan nama para pemain di film ini menjadi sebuah kata atau nama,tapi hasilnya nihil. Kemungkinan yang paling kecil adalah mengacak huruf dan itu tidak saya lakukan,karena pasti terdiri dari beberapa kemungkinan. Dan di film ini ketika babak penyelesaian masalah,Raditya Dika berkesimpulan, nama pembunuhnya adalah hasil acak dari nama Tony S (maaf saya lupa) menjadi Prilly Latuconsina deng deng,cerdas Raditya Dika,tapi teknik itu sudah sering ada di film thiller (tapi film apa ya maaf saya lupa). Kesimpulanya,film ini bagus secara keseluruhan tapi Raditya Dika saya percaya bisa jauh lebih baik lagi. Dan saya menunggu dengan sangat sabar,apakah Raditya Dika bersedia membuat film thiller,tanpa komedi? Saya berjanji akan meluangkan waktu menontonya.

Rating Film : 6,5/10


Pengulas adalah seorang pecinta film dalam negeri maupun luar negeri,tidak pernah bersekolah film tapi penikmat film berdosis tinggi,tapi jujur bukan orang gila. Pengulas hanya mengulas film dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya berusaha berimbang dengan kelebihan dan kekurangan film itu sendiri.

Erisfika Bahrul Hikmah.


Popular posts from this blog

Ulasan Film Cek Toko Sebelah 2017 : Berlari Tanpa Kaki